Posted by ketewa on 9/11/2007, 1:44 am Africa is calling... Aids sinonim dengan Afrika. Ketika membicarakan HIV dan AIDS, orang selalu menjadikan Afrika sebagai rujukan karena memang hingga kini di benua inilah banyak orang terpapar HIV dan AIDS.
Kepemimpinan Perempuan mengatasi HIV dan AIDS
(Ole–ole Mengikuti International Women’s Summit on HIV and AIDS)
Nairobi, Kenya
(June 30 – July 12, 2007)
Sebagai tim solid YWCA Indonesia yang memiliki keprihatinan terhadap isu HIV dan AIDS sekaligus keberpihakan kepada mereka yang hidup dengan virus ini, kami sangat antusias ketika mendapat kesempatan mengikuti International Women’s Summit (IWS) khusus HIV dan AIDS di Nairobi – Kenya- Afrika Timur. Perjalanan menumpangi Emirates Airlines selama hampir 24 jam pun (tentunya termasuk dua kali transit di Singapore dan Dubai) terasa tidak melelahkan…
Please feel free to give me a hug…
Di awal pertemuan, kami membaca dengan jelas tulisan diatas yang secara sengaja ditempelkan oleh beberapa remaja pada punggung mereka. Jumlah mereka memang tidak seberapa, tapi kehadiran mereka diantara 2000an peserta IWS yang memadati Kenyatta International Conference Center (KICC) - gedung pertemuan ‘terbesar’ di Kota Nairobi ini cukup menarik perhatian. Mengapa? Secara implisit tulisan ini mau memperlihatkan status mereka sebagai remaja positif HIV. Karena itu menjadi semacam kampanye untuk meyakinkan orang yang membacanya bahwa HIV tidak menular melalui pelukan. Juga, memperlihatkan bahwa persahabatan seyogianya terbuka bagi siapa saja tak peduli HIV positif atau negatif. Tulisan para remaja ini sangat mungkin dilatar belakangi oleh stigma dan diskriminasi yang sering mereka terima hanya karena dalam darah mereka terdapat virus HIV.
Untunglah, IWS menjadi wadah/tempat yang tepat dimana mereka bisa diterima, didengar bahkan dilibatkan dalam berbagai diskusi guna mencari solusi bagaimana menahan laju penyebaran virus HIV, khususnya bagi perempuan.
Pada bagian lain dalam IWS, seorang ODHA (=Orang Dengan HIV&AIDS) perempuan menuturkan kisah ketika dirinya divonis HIV positif. Saat itu, dalam pemeriksaan awal untuk masuk ke sebuah sekolah bergengsi, dilakukan tes kesehatan (termasuk di dalamnya test HIV, tanpa pemberitahuan dan VCT). Ketika hasil tes disampaikan, sang dokter mengatakan: ”semua hasil tes negatif, kecuali HIV”. Konsekuensinya, perempuan ini tidak diterima di sekolah, bahkan kemudian keluarganya pun mengambil jarak karena tidak tahu bagaimana harus bersikap. Terdorong oleh pengalaman menyakitkan (test tanpa VCT, ditolak sekolah, dijauhi keluarga, dll), ia kemudian berjuang untuk mengadvokasi banyak pihak agar tidak ada lagi korban berikutnya yang ditolak karena positif HIV. Dia adalah Maire Bopp Allport, orang pertama di Tahiti yang berani membuka diri ke media massa, ditengah – tengah penolakan masyarakat terhadap ODHA dan mendirikan Pacific Islands AIDS Foundation (PIAF).
Listen – learn - lead
Remaja - remaja perempuan positif dengan kampanye Feel Free to Give me a hug maupun kisah Maire Bopp, hanya segelintir cerita yang ’terselip’ diantara banyak cerita, pengalaman maupun aktivitas yang berlangsung 1 – 11 July 2007 ini. Karena sesungguhnya IWS - yang dilaksanakan oleh World YWCA (Young Women’s Christian Association) - memang menjadi momentum penting bagi siapa saja yang peduli HIV dan Aids untuk melakukan tiga hal: listen, learn, lead, sehingga ada ruang untuk mendengar, belajar serta mengidentifikasi tantangan sebagai peluang perempuan memimpin perubahan.
Secara informal IWS dibuka pada tanggal 4 Juli 2007 oleh presiden Republik Kenya Mwai Kibaki yang kala itu didampingi oleh Menteri Gender, Olahraga, Budaya dan pelayanan sosial, Maina Kamanda. Turut memberikan sambutan antara lain Deputi Sekretraris Jendral PBB, Asha Rose Migiro, Direktur Umum WHO, Margareth Chan dan Direktur Eksekutif UNAIDS, Peter Piot.
Pada hari pertama, ada pertemuan khusus perempuan positif yang menghimpun sekitar 300 ODHA perempuan dari berbagai ras, budaya dan bangsa. Pertemuan ini memberi ruang pada ODHA untuk berbagi pengalaman, mengindentifikasi persoalan – persoalan spesifik yang dialami ODHA perempuan serta membangun jaringan untuk bersama – sama terlibat dalam upaya memerangi HIV dan AIDS.
Selanjutnya, IWS diisi dengan serangkaian workshop yang memberi kesempatan untuk diskusi, berbagi pengalaman dan praktek – praktek penanggulangan HIV dan AIDS, serta capacity building untuk memperkuat respon bersama terhadap AIDS. Workshop terbagi dalam lima kelompok isu yaitu: women’s leadership in response to AIDS, Policy and Advocacy: Moving into action, Lesson learnt from changing community, Intensifying prevention, treatment, care and support for women and girls, dan positive living. Dari kelima kelompok isu ini, ada 45 workshop group dengan topic - topik menarik antara lain public speaking for positive women, violence against women and HIV and AIDS, Micro finance for positive families, HIV and motherhood, GIPA in action, Accessing care, treatment and support, dll. Para expert menjadi pembicara dalam setiap workshop sehingga acara ini benar – benar memberikan kesempatan ‘exposure’ bagi peserta untuk tidak hanya bertukar pengalaman tetapi juga belajar bagaimana menginisiasi serta menjalankan program HIV dan AIDS berperspektif dan berpihak pada perempuan sebagai kelompok rentan.
Sebagai penghargaan kepada perempuan yang telah berkiprah, memperlihatkan kepemimpinan luar biasa dalam penanganan HIV dan AIDS, dipilih 14 perempuan dari berbagai belahan dunia untuk menerima leading change award dalam acara IWS. Mereka berasal dari Kenya, Namibia, Bolivia, Republik Kongo, India, Afrika Selatan, Zimbabwe, UK, Ukraina, Kamerun, USA, Tanzania dan Botswana. Mereka terbukti memberikan respons – respons inovatif terhadap pandemik ini, juga memberikan harapan dan inspirasi kepada mereka yang kehilangan harapan karena HIV dan AIDS.
Experience Kenya , experience Africa
Selain IWS, ada juga beberapa kegiatan yang kami ikuti seperti Capacity Building mengenai Governance and Management, sharing pengalaman penanganan Tsunami 2004 bersama peserta dari Thailand , India dan Sri- Lanka.
Di samping itu, di lokasi kegiatan, Sokoni (bahasa Swahili, bahasa orang Kenya untuk pasar/pameran) menjadi daya tarik tersendiri karena merupakan tempat terjadinya pertukaran informasi dan sharing budaya. Ada berbagai display dari kurang lebih 59 Exhibitors mewakili berbagai organisasi internasional seperti Global Coalition on Women and AIDS, UNAIDS, UNFPA, World Vision, dll, serta dari berbagai YWCA di seluruh dunia yang menggelar publikasi juga kerajinan tangan dan produk khas negara masing–masing. Ada yang sekedar memajang, namun ada juga yang menjual dengan harga relatif murah.
Kami juga menikmati warisan budaya, tradisi serta potensi Afrika di Kenya melalui kunjungan ke Bomas, untuk melihat secara langsung peninggalan dan miniatur rumah suku–suku di Afrika. Sayangnya rumah–rumah ini memperlihatkan dominasi budaya patriarkhi yang sangat kentara karena ada rumah isteri pertama dan isteri kedua dalam satu komplek. Selain itu, kami juga menikmati tarian–tarian khas Afrika, Masai market yang menjual kerajinan tangan suku Masai, mengunjugi Giraffe Center ,dll.
Walaupun udara yang ‘agak2 dingin sekali’ berkisar 10 - 15 derajat Celcius untuk ukuran kami, makanan yang berselera Eropah serta faktor keamanan yang membuat kami harus menaikkan bar kewaspadaan setiap saat, kami tetap menikmati Kenya – Kota Air Dingin- menikmati Afrika... we do really miss Nairobi
(National Board YWCA INDONESIA, Jakarta)
Message Thread:
![]()
« Back to thread